REKONSTRUKSI EPISTEMOLOGI TAUHID: MENJAWAB HEGEMONI LIBERALISME DALAM WACANA KEAGAMAAN KONTEMPORER
Abstract
Penelitian ini bertujuan mengkaji secara kritis hegemoni epistemologi liberal dalam ranah akademik modern serta dampaknya terhadap marjinalisasi epistemologi tauhid dalam diskursus keilmuan kontemporer. Penelitian ini berangkat dari tesis bahwa kekalahan umat Islam dalam arena pengetahuan bersifat epistemologis-struktural, bukan akibat ketidakmampuan inheren dalam produksi ilmu, melainkan akibat kolonisasi kriteria kebenaran, metodologi, dan legitimasi pengetahuan yang berakar pada paradigma rasionalisme otonom, empirisisme-positivistik, sekularisme metodologis, relativisme epistemik, dan humanisme sekuler. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif-filosofis melalui analisis kritis paradigma dan dialog konseptual dengan pemikiran tokoh-tokoh Islam klasik dan kontemporer, khususnya Abu Hamid al-Ghazali, Syed Muhammad Naquib al-Attas, dan Seyyed Hossein Nasr. Hasil penelitian menunjukkan bahwa epistemologi liberal bekerja secara hegemonik melalui klaim netralitas dan objektivitas ilmu, yang secara implisit menyingkirkan wahyu dan dimensi metafisik dari wilayah pengetahuan sah. Akibatnya, epistemologi tauhid direduksi menjadi doktrin normatif non-operasional. Penelitian ini menawarkan rekonstruksi epistemologi tauhid berbasis tiga dimensi fundamental rubūbiyyah, ulūhiyyah, dan asmā’ wa ṣifāt sebagai prinsip onto-epistemologis yang integratif. Kesimpulan penelitian menegaskan bahwa epistemologi tauhid memiliki relevansi dan kapasitas konseptual untuk menantang hegemoni liberal serta menawarkan solusi terhadap krisis makna, fragmentasi ilmu, dan kekosongan etika dalam modernitas.