MENILAI VALIDITAS TAFSIR ILMIAH MELALUI TEORI AL-DAKHĪL (TELAAH ATAS QS. AL-ANBIYA’/21: 30)
Abstract
Tafsir ilmiah semakin memperkuat dialog antara Alquran dan ilmu pengetahuan modern melalui upaya menafsirkan ayat-ayat kauniyah berdasarkan teori-teori sains kontemporer. Salah satu ayat yang paling banyak diperdebatkan adalah QS. al-Anbiyā’/21:30, khususnya frasa kānatā ratqan fa-fataqnāhumā, yang sering dikaitkan dengan teori Big Bang. Namun, penafsiran tersebut menimbulkan persoalan metodologis mengenai legitimasi penggunaan teori ilmiah sebagai dasar dalam menentukan makna Alquran. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian kepustakaan (library research) yang bersifat teoretis-filosofis. Data dikumpulkan melalui studi dokumentasi terhadap kitab-kitab tafsir klasik, karya-karya tafsir ilmiah kontemporer, serta literatur mengenai teori al-dakhīl fī al-tafsīr. Selanjutnya, data dianalisis menggunakan teknik qualitative content analysis untuk menilai validitas metodologis penafsiran ilmiah. Penelitian ini menunjukkan bahwa makna leksikal ratq dan fatq dalam tafsir klasik mengacu pada konsep umum tentang penyatuan dan pemisahan tanpa secara eksplisit merujuk pada teori Big Bang. Pengaitan ayat tersebut dengan kosmologi modern merupakan hasil ijtihad interpretatif, bukan makna definitif yang dimaksud oleh Alquran. Penelitian ini juga merumuskan lima indikator metodologis untuk menilai validitas tafsir ilmiah, yaitu kesesuaian dengan makna kebahasaan, koherensi dengan konteks ayat, kesinambungan dengan tradisi tafsir, penempatan teori ilmiah sebagai instrumen konfirmatif, bukan penentu makna, serta pemeliharaan fungsi utama Alquran sebagai kitab petunjuk. Validitas tafsir ilmiah tidak ditentukan oleh tingkat kesesuaiannya dengan teori sains, melainkan oleh konsistensinya terhadap prinsip-prinsip metodologi tafsir Alquran. Teori al-dakhīl memberikan kerangka metodologis yang kritis untuk menjaga keseimbangan antara otoritas wahyu dan perkembangan ilmu pengetahuan sehingga dialog antara Alquran dan sains tetap berlangsung dalam koridor metodologi tafsir yang benar.