Media Sosial Sebagai Jantung Eksistensi Modern: Kuasa Angka dan Konstruksi “Tuhan Digital”
Abstract
Social media has become a primary space for individuals to construct self-image and gain social recognition. This study aims to examine how numerical metrics such as likes, views, and followers shape the existence of the digital human within the context of Indonesian society. Through direct observation of 5–10 active social media accounts across three different platforms—Instagram, Tiktok, and YouTube—this research identifies behavioral patterns that reveal a significant dependence on digital numerical mechanisms. The findings show that numbers have transformed into symbols of identity and social legitimacy, rather than mere indicators of interaction. Users tend to adjust their content according to algorithmic logic, curate visual elements, and leverage controversy in order to gain visibility and recognition. This study concludes that social media has become the core of modern human existence, where individuals’ presence is validated through digital visibility governed by algorithms and the power of numbers. The study emphasizes the need for more critical digital literacy regarding the social impacts of numerical dominance and digital power structures. Media sosial telah menjadi sebuah wadah utama bagi masyarakat dalam membangun citra diri dan memperoleh pengakuan sosial. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari bagaimana kuasa angka seperti likes, views, followers bisa membentuk eksistensi manusia digital dalam konteks masyarakat Indonesia. Melalui metode observasi langsung terhadap 5-10 akun media sosial aktif di tiga platform yang berbeda seperti Instagram, Tiktok, dan Youtube. Penelitian ini mengidentifikasi pola perilaku yang memperlihatkan suatu ketergantungan yang cukup tinggi terhadap mekanisme angka digital. Temuan menunjukkan bahwa angka berubah menjadi simbol diri dan legitimasi sosial, bukan hanya sebagai indikator interaksi. Pengguna cenderung menyesuaikan konten dengan logika algoritma, mengurasi visual konten dan memanfaatkan kontroversi untuk memperoleh visibilitas dan pengakuan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa media sosial telah menjadi jantung eksistensi masyarakat modern, di mana keberadaan manusia divalidasi oleh keterlihatan digital yang dikendalikan oleh algoritma dan angka. Studi ini menekankan perlunya literasi digital yang lebih kritis terhadap dampak sosial dari kuasa angka dan struktur kekuasaan digital.