Tasawuf sebagai pola pikir hidup sederhana: analisis pemikiran Gus Baha
Abstract
Abstract This study is motivated by the growing tendency of modern society toward consumerism, materialism, and competitive lifestyles that often lead to spiritual crises and inner anxiety. Sufism (tasawuf), as the spiritual dimension of Islam, offers a mindset of simple living that emphasizes balance between worldly life and the hereafter. This research aims to analyze the thought of KH. Ahmad Bahauddin Nursalim (Gus Baha) regarding Sufism as a mindset of simple living and its relevance to contemporary challenges. The study employs a qualitative approach with a library research design. Primary data were obtained from Gus Baha’s sermons and lectures, while secondary data were derived from scholarly works on Sufism and contemporary Islamic thought. The findings reveal that, according to Gus Baha, simplicity does not mean rejecting worldly life, but living proportionally, avoiding sin through permissible activities, and integrating sharia with spirituality. Sufism is presented as a practical mindset that shapes social ethics, strengthens tolerance, and provides solutions to modern moral crises. Therefore, Gus Baha’s Sufistic perspective remains highly relevant as guidance for balanced living in the contemporary era.Abstrak Penelitian ini dilatarbelakangi oleh kecenderungan masyarakat modern yang semakin terjebak dalam gaya hidup konsumtif, materialistik, dan kompetitif sehingga menimbulkan krisis spiritual dan kegelisahan batin. Tasawuf sebagai dimensi spiritual dalam Islam menawarkan pola pikir hidup sederhana yang menekankan keseimbangan antara dunia dan akhirat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pemikiran KH. Ahmad Bahauddin Nursalim (Gus Baha) mengenai tasawuf sebagai pola pikir hidup sederhana serta relevansinya terhadap tantangan kehidupan modern. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian kepustakaan (library research), dengan data primer berupa ceramah dan pengajian Gus Baha serta data sekunder dari literatur ilmiah terkait tasawuf dan pemikiran Islam kontemporer. Hasil penelitian menunjukkan bahwa menurut Gus Baha, kesederhanaan bukanlah penolakan terhadap dunia, melainkan sikap proporsional, menjauhi maksiat melalui aktivitas mubah, serta integrasi antara syariat dan spiritualitas. Tasawuf dipahami sebagai pola pikir praktis yang membentuk etika sosial, memperkuat toleransi, dan menjadi solusi atas krisis moral modern. Dengan demikian, tasawuf ala Gus Baha relevan sebagai pedoman hidup seimbang di era kontemporer.