Penerapan Dimensi Berkebinekaan Global pada Pembelajaran Pendidikan Pancasila di SMAN 1 Cikeusal
Abstract
Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan praktik penerapan dimensi berkebinekaan global Profil Pelajar Pancasila pada pembelajaran Pendidikan Pancasila di SMAN 1 Cikeusal serta mengidentifikasi tantangan yang dihadapi dalam proses penerapannya. Pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif digunakan dalam penelitian ini. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara terstruktur, dan dokumentasi, dengan melibatkan wakil kepala sekolah bidang kurikulum, guru Pendidikan Pancasila, dan peserta didik kelas XI sebagai informan. Triangulasi sumber dan triangulasi teknik digunakan untuk menguji keabsahan data. Hasil penelitian menunjukkan tiga temuan utama. Penerapan dimensi berkebinekaan global mencakup tiga tahapan, yaitu perencanaan berbasis Kurikulum Merdeka (analisis Capaian Pembelajaran, Kompetensi Inti-Kompetensi Dasar, dan Alur Tujuan Pembelajaran, disertai penyusunan modul ajar inklusif), pelaksanaan pembelajaran yang mengintegrasikan empat elemen kunci berkebinekaan global (mengenal dan menghargai budaya, komunikasi dan interaksi antarbudaya, refleksi dan tanggung jawab atas pengalaman kebinekaan, serta berkeadilan sosial), dan evaluasi sistematis terhadap proses pembelajaran, hasil belajar, serta implementasi kurikulum. Guru menghadapi tantangan berupa pengaruh negatif lingkungan, resistensi dan eksklusivitas kelompok peserta didik, keterbatasan fasilitas teknologi, serta minimnya pelatihan pendidikan global; peserta didik menghadapi kesulitan mengubah pola pikir lama, pengaruh budaya asing di era digital, luasnya materi kebudayaan, dan konsistensi penerapan nilai luhur. Hambatan tersebut bersumber dari faktor internal (kesiapan guru, motivasi siswa, dan media pembelajaran) serta faktor eksternal (paparan konten provokatif media sosial dan ketidakselarasan nilai antara sekolah dengan lingkungan keluarga/masyarakat). Penguatan berkelanjutan melalui variasi media, pelatihan guru, dan sinergi sekolah-keluarga direkomendasikan untuk memperkuat aspek pemberdayaan dalam pendidikan kebinekaan global.