Skip to content
Open access

Sabbath as Resistance in Early Childhood Parenting: A Theological-Prophetic Critique of Hustle Culture in Urban Christian Families

Sep 2026 · Real Kiddos: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini · 0 citations · 5 references

Abstract

Early childhood parenting among urban Christian families in Indonesia is vulnerable to a logic of productivity that measures childhood by quantifiable achievement. Sociological studies have mapped this pattern as intensive parenting and concerted cultivation, and Indonesia's 2023 policy on the transition from preschool to primary school has addressed it pedagogically, yet its theological and spiritual dimensions remain underexplored. Through conceptual library research, this article develops a theological-prophetic critique of this logic. Its diagnostic framework is Mata-McMahon et al.'s essence–origin–action framework of children's spirituality, adapted heuristically. Its corrective framework is Walter Brueggemann's four forms of Sabbath resistance (to anxiety, coercion, exclusivism, and multitasking), read alongside an exegesis of Deuteronomy 5:12–15 and Psalm 127:2–3 and in dialogue with Hartmut Rosa's social acceleration theory and Byung-Chul Han's burnout society. The study advances the conceptual proposition that the non-instrumental elements of the essence dimension, such as wonder, calm, joy, and play, are the most vulnerable, since their erosion leaves no visible marker of achievement. Parts of the action dimension are similarly vulnerable, whereas the origin dimension tends to be redirected as parents, the external source of children's spirituality, transmit the logic of productivity itself. The novelty lies in combining both frameworks within Indonesia's early childhood policy context, yielding a framework of Sabbath-shaped parenting across three domains: time, relationships, and community. Here, children are recipients of life, not objects of continuous development. The framework has implications for families, churches, and Christian early childhood institutions, especially among the urban middle class, and requires empirical testing. Abstract Pengasuhan anak usia dini di kalangan keluarga Kristen urban di Indonesia rentan dibentuk oleh logika produktivitas yang menilai masa kanak-kanak dari capaian terukur. Kajian sosiologi pengasuhan telah memetakan gejala ini sebagai pengasuhan intensif dan concerted cultivation, dan kebijakan transisi PAUD–SD tahun 2023 telah meresponsnya secara pedagogis, tetapi dimensi teologis dan spiritualnya belum banyak dikaji. Melalui studi pustaka dengan analisis konseptual, artikel ini merumuskan kritik teologis-profetik terhadap logika tersebut. Kerangka diagnosisnya adalah kerangka spiritualitas anak essence–origin–action dari Mata-McMahon dkk. yang diadaptasi secara heuristik. Kerangka koreksinya adalah empat bentuk resistensi Sabat menurut Walter Brueggemann, yaitu resistensi terhadap kecemasan, koersi, eksklusivisme, dan multitasking, yang dibaca bersama eksegesis Ulangan 5:12–15 dan Mazmur 127:2–3 serta didialogkan dengan teori percepatan sosial Hartmut Rosa dan konsep masyarakat kelelahan Byung-Chul Han. Kajian ini mengajukan proposisi konseptual bahwa unsur-unsur non-instrumental dalam dimensi essence, seperti kekaguman, ketenangan, sukacita, dan bermain, dapat dipahami sebagai yang paling rentan tergerus karena penggerusannya tidak meninggalkan penanda capaian yang terlihat. Kerentanan serupa tampak pada sebagian dimensi action, sedangkan dimensi origin cenderung terarah ulang ketika orang tua, sebagai sumber eksternal spiritualitas anak, mewariskan logika produktivitas itu sendiri. Kebaruan artikel terletak pada perpaduan kedua kerangka tersebut dalam konteks kebijakan PAUD Indonesia, yang menghasilkan kerangka pengasuhan Sabatis dalam tiga ranah: waktu, relasi, dan komunitas. Dalam kerangka ini, anak dipandang sebagai penerima kehidupan, bukan objek yang terus-menerus dikembangkan. Kerangka ini berimplikasi bagi keluarga, gereja, dan lembaga PAUD Kristen, terutama di kalangan kelas menengah urban, dan perlu diuji secara empiris.

Read PDF

We use cookies to run the site and, with your consent, for analytics and to show ads. See our Cookie Policy.